Tugas Protokol dalam Kegiatan Masyarakat (Telonan Bayi)

 Tugas Protokol dalam Kegiatan Masyarakat

(Telonan Bayi)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mc dan Protokoler

Diampu oleh Suyitno Al Hamam M.Sos



 

Disusun oleh :


MUHAMMAD NUR KHAFI D20181003


PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER

Tahun 2020



KATA PERNGANTAR

Puja syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah Nya sehingga penulisan makalah mata kuliah MC dan Protokoler yang berjudul protokol dalam kegiatan masyarakat (Telonan Bayi)dapat diselesaikan dengan tetap waktu.

Tujuan dari penulis ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah MC dan Protokoler prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam O1 semester 5.

Tak lupa ucap terima kasih ditujukan kepada :

1. Bapak Prof Dr. H. Babun Soeharto, MM, selaku Rektor IAIN Jember

2. Bapak Dr. Suyitno M.Sos selaku Dosen Kuliah MC dan Protokoler

3. Teman-teman dan segenap pihak yang telah membantu hingga terselesaikan penulisan makalah ini.

Tak ada gadin tak retak, demikian pula dengan penulisan makalah ini yang masih sagat jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca budiman dangat di harapkan demi kesempurnaan penulisan selanjutnya. 


Jember, 29 November 2020



Penyusun

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 1

C. Tujuan 1

BAB II PEMBAHASAN 3

A. Tradisi Telonan 3

B. Tugas-Tugas Protokol dalam Kegiatan Masyarakat 4

C. Fungasi Telonan Bayi 5

BAB III KESIMPULAN 6

DAFTAR PUSTAK

BAB I

Latar Belakang

Tradisi-tradisi di zaman modern sangat berbeda dengan tradisi di zaman dahulu, khususnya dalam tradisi yang diterapkan untuk kebiasan sehari-hari. Tradisi di zaman sekarang tidak menerapkan tradisi yang terlalu kaku dan menyusahkan dalam mengamalkan apalagi tradisi yang percaya terhadap tahayul. Tradisi di zaman Modern ini lebih mengendepankan tradisi yang simple, mudah dipahami dan mudah dalam pelaksanaan.

Indonesia merupakan suatu negara yang didalamnya terdapat begitu banyak suku, ras, dan budaya yang begitu berbeda, salah satunya suku jawa. Suku Jawa adalah suku terbesar di Indonesia yang masih aktif dalam mengamalkan tradisi-tradisinya. Masyarakat jawa masih sangat percaya dengan tradisi harus terus diamalkan agar segala kehidupan di anak dan cucu selamat.

Menurut koentjaraningrat, masyarakat jawa secara sosial ekonomi dibedakan menjadi dua golongan, yaitu: wong cilik yang sebagaian besar adalah petani dan kaum priyai yang terdiri dari kaum pegawai dan intelektual. Berdasrkan penganut agama, masyarakat jawa dibedakan menjadi golongan santri dan kejawen. Golongan santri merupakan golongan yang taat dan berusaha semaksimal mungkin menjalankan ajaran islam dalam kehidupannya. Golongan kejawen adalah orang yang percaya dengan ajaran islam, tetapi tidak secara patuh menjalankan ajaran islam sepenuhnya,mereka  lebih mengikuti tradisi-tradisi jawa pra-islam. Keagamaan mereka ditentukan dengan kepercayaan kepada macam ruh nenek moyang mereka.

Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud telonan bayi?

2. Apa saja persyaratan telonan bayi?

3. Apa fungsi dari telonan bayi?

4. Bagaimana Tugas-Tugas Protokol dalam Kegiatan Telonan Bayi

Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu telonan bayi.

2. Untuk mengetahui persyaratan telonan bayi

3. Untuk mengetahui fungsi telonan bayi

4. Menderkripsikan Tugas-Tugas Protokol dalam Kegiatan Telonan Bayi

BAB II

PEMBAHASAN

Susunan panitia Telonan Bayi

Ketua : Shofiyahtun 

Bendahara : Shofiyahtun

Seksi Konsumsi : Neng, sunnah, shofiyatun, sari.

Seksi Logistik : shofiyatun dan sunnah

M.C : Kasan

Waktu Pelaksanaan : Ba’da Magrib jam 18:00 - Selesai

Tempat : Rumah Kasbollah DS. Jabang RT. 19 RW. 07 Kec. Kras Kab. Kediri


A. Tradisi Telonan

Tradisi telah lama menghiasi sebgaian besar bumi nusantara ini, khususnya berkenaan dengan tradisi selametan kehamilan pada dasarnya tak lepas dari nilai luhur untuk mengharapkan keselamatan ibu yang sedang mengandung dan anaknya, serta agar dimudahkan dalam proses melahirkan,juga menjadi anak yang salih dan salihah. Dalam peraktiknya terdapat beragam ritual yang dilakukan. Ada yang mengemasnya dengan berbagai prosesi, salah satunya yaitu tradisi telonan. Tradisi telonan atau biasanya disebut juga ngapati adalah merupakan upacara selamatan pada saat kandungan si ibu mencapai usia 4 bulan atau pada saat janin berusia 120 hari. Pada saat dilaksanakan upacara ini disertai juga dengan kendurian dengan mengundang tetangga-tetangga dekat untuk menghadiri pelaksanaan upacara tersebut. Adapun hidangan dalam upacara ini yaitu:

a. Nasi tumpeng 4 (empat biji) lengkap dengan lauk-pauk yaitu urapan (bahsa jawab=gudhangan)

b. Bubur atau dalam bahasa jawa disebut jenag merah putih 4 (empat biji) yang diatuoh dalam piring

c. Jenang baro-baro, yaitu jenang katui yang diberi parutan kelapa dan sisiran gula jawa

d. Nasi kuning sebagai lambang cinta kasih

e. Berbagai macam jajanan pasar.

Meyongsong penentuan ini, hendaklah diadakan upacara ngupati (Telonan) yaitu berdoa (sebagai sikap bersyukur, ketundukan atau kepasrahan) mengajukan permohonan kepada Allah agar nanti anak lahir sebagai manusia yang utuh sempurna, sehat, dianugrahi rezeky yang lapang, berumurpanjang penuh dengan nilai-nilai ibadah, beruntung di dunia dan di akhirat. Begitu pula hendaklah bersedekah. Kita ketahui bahwa doa dan sedekah adalah dua kekuatan yang bisa menembuskan takdir. 


B. Tugas-Tugas Protokol dalam Kegiatan Telonan Bayi

Tugas-tugas protokol dalam kegiatan masyarakat (Telonan Bayi) yang diamati oleh penulis sebelum pra acara telonan bayi:

a. Mencari bahan-bahan masakan untuk persyaratan telonan dan tasyakuran

b. Memasak hidangan persyaratan telonan dan tasyakuran

c. Menyajikan hidangan persyaratan telonan dalam loyang dan menyajikan berkat untuk para undangan.

d. Mengundang para warga sekitar lingkungan

Saat Acara :

a. Tuan ruma menjamu para undangan 

b. Saat para warga telah tiba dirumah kemudian tuan rumahpun menujuk seseorang yang biasanya memimpin tahlilan di mushola. 

c. Kemudian talilan dimulai dengan kitmat dan ditutup dengan doa

d. Membagikan berkat kepada para tamu undangan serta membagikan makanan yang berada diloyang untuk anak-anak kecil disekitar rumah.

Setelah Acara :

a. Membersihkan tempat acara dan dapur

b. Selesai


C. Fungsi Tradisi Telonan

Tradisi telonan memiliki fungsi yaitu sebagai sikap bersyukur kepada Allah yang mana didalam tradisi telonan terdapat pembacaan doa-doa, agar nantinya anak lahir sebagai manusia yang utuh sempurna, sehat, duanugrahi rezeki yang baik dan lapang, berumur panjang yang dipenuhi dengan nilai-nilai ibadah.

Berbagai simbol dan sesaji ritual mitoni demikian, memang tampak bahwa masyarakat jaa memiliki harapan-harapan keselamatan. Masyarakat Jawa menggap mitoni sebagai rituak yang patut diperhatikan secara khusus. Tradisi ini merupakan kombinasi ajarn baik dari Hindu, Kejawen bahkan Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas suku Jawa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makna dari fungsi selametan mitoni adalah :

a. Mewarisi tradisi leluhur, agar tidak mendapatkan mara bahaya.

b. Menjaga keseimbangan, keselarasan, keseimbangan dan keselamatan hidup yairu kondisi aman tentram tanpa gangguan mahluk lain atau sekitar. Selain itu, tradisi tujuh bulan menujukan karakter masyarakat Jawa yang berfikir sosiatif.

Pada dasarnya “telonan” merupakan ritual yang bernilai sacral dan berjutuan sangat mulia. Karena di dalam ritual telonan terdapat permohonan doa kepada Allah dan kumandang kalimat-kalimat Shalawat Nabi merupakan bukti pelaksanaan tingkeban secara Islam.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan 

1. Tradisi telonan atau biasanya disebut juga ngapati adalah merupakan upacara selamatan pada saat kandungan si ibu mencapai usia 4 bulan atau pada saat janin berusia 120 hari.

2. Adapun hidangan dalam upacara ini yaitu:

f. Nasi tumpeng 4 (empat biji) lengkap dengan lauk-pauk yaitu urapan (bahsa jawab=gudhangan)

g. Bubur atau dalam bahasa jawa disebut jenag merah putih 4 (empat biji) yang diatuoh dalam piring

h. Jenang baro-baro, yaitu jenang katui yang diberi parutan kelapa dan sisiran gula jawa

i. Nasi kuning sebagai lambang cinta kasih

j. Berbagai macam jajanan pasar.

3. fungsi selametan mitoni adalah :

a. Mewarisi tradisi leluhur, agar tidak mendapatkan mara bahaya.

b. Menjaga keseimbangan, keselarasan, keseimbangan dan keselamatan hidup yairu kondisi aman tentram tanpa gangguan mahluk lain atau sekitar. Selain itu, tradisi tujuh bulan menujukan karakter masyarakat Jawa yang berfikir sosiatif.

4. Tugas-tugas protokol dalam kegiatan masyarakat (Telonan Bayi) yang diamati oleh penulis sebelum pra acara telonan bayi:

a. Mencari bahan-bahan masakan untuk persyaratan telonan dan tasyakuran

b. Memasak hidangan persyaratan telonan dan tasyakuran

c. Menyajikan hidangan persyaratan telonan dalam loyang dan menyajikan berkat untuk para undangan.

d. Mengundang para warga sekitar lingkungan

Saat Acara :

a. Tuan ruma menjamu para undangan 

b. Saat para warga telah tiba dirumah kemudian tuan rumahpun menujuk seseorang yang biasanya memimpin tahlilan di mushola. 

c. Kemudian talilan dimulai dengan kitmat dan ditutup dengan doa

d. Membagikan berkat kepada para tamu undangan serta membagikan makanan yang berada diloyang untuk anak-anak kecil disekitar rumah.

Setelah Acara :

a. Membersihkan tempat acara dan dapur

b. Selesai


DAFTAR PUSTAKA

Syaiful Anwar, 2019. Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Telonan Kandungan Desa Sukoharjo Kecamatan Abung Surakarta Kabupaten Lampung Utara. Skripsi Fakultas Ushuludin dan Studi Agama Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Komentar

Postingan Populer